mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini9
mod_vvisit_counterKemarin8
mod_vvisit_counterMinggu Ini25
mod_vvisit_counterBulan Ini142
mod_vvisit_counterAll28707

Pelatihan Guru Menulis di Rumah Perubahan

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

 

 

"Sebelum perubahan menyentuh cara berpikir, maka manusia belum berubah ... " (Rhenald Kasali )

Rumah Perubahan didirikan oleh Rhenald Kasali untuk menjadikan Indonesia yang lebih baik melalui misi perubahan, baik pada level individu, komunitas, organisasi, usaha sosial, dan pemerintah. Salah satu program menarik yang ditawarkan kepada para guru di Indonesia adalah beasiswa Pelatihan Menulis.

Rhenald menyebutnya beasiswa karena program untuk guru memang tanpa biaya yang dibebankan kepada peserta, namun mereka tetap mendapat fasilitas berupa starter kit seminar, makan siang, snack pagi dan sore, serta sertifikat. Program pelatihan menulis ini sendiri merupakan salah satu program yang biasa dijual di Rumah Perubahan dengan biaya yang tidak murah. Dua kali mengalami penjadwalan ulang membuat saya deg-degan.

Jadwal yang dibuat Rumah Perubahan memang setahu saya biasanya adalah Senin dan Selasa, seperti yang sudah dijalani beberapa angkatan yang mengikuti sebelum saya. Jadwal saya justru padat di hari-hari tersebut, walhasil setelah dua kali reschedule, Alhamdulillah kali ini saya berangkat juga walaupun dengan mengorbankan acara wisuda kelas XII yang sebenarnya saya tunggu-tunggu juga. Saya, Siti Mugi Rahayu, berangkat bersama Ibu Nunung Nuraida dari SMA al muslim, Ibu Elis Setiawati dan Ibu Ida Farida dari SMP al muslim. Acara terjadwal dimulai pukul 8.00, sementara mobil yang kami tumpangi masih di jalan tol arah Jati Makmur. Saya sudah merasa tidak nyaman karena tidak biasa terlambat.

Beberapa rekan pelatihan sebelumnya memang mengatakan bahwa pelatihan ini sangat disiplin. Setiap keterlambatan akan dikenakan denda dan hukuman lain. Selepas jalan tol, kendaraan mulai masuk ke dalam jalanan kecil dengan tingkat kepadatan yang lumayan. Mobil saling berbagi jalan dengan kendaraan lain yang juga mulai terasa terburu-buru karena terlambat. Setelah hampir 20 menit, mobil masuk gang kecil. Saya agak bertanya dalam hati. Masa Rumah Perubahan sekelas Rhenald Kasali masuk ke gang seperti ini ?

Sambil berusaha mencari jawaban, saya memperhatikan jalanan. Mobil kian jauh masuk ke gang kecil di samping Pembangkit Listrik. Hanya muat satu mobil, sehingga kalau di depan ada kendaraan lain, harus merelakan diri mundur atau menepi ke pekarangan orang. Beberapa bangunan mulai tampak berinisial khas Rumah Perubahan. Rupanya sudah mulai sampai. Kendaraan mulai masuk ke halaman parkir. Terlihat sudah sesak oleh motor dan beberapa mobil. Kami disambut beberapa orang karyawan berseragam Rumah Perubahan. Semuanya ramah, menunjukkan jalan ke arah beberapa gedung kayu yang antic. Saya terkagum-kagum oleh rindangnya pohon, indahnya taman, dan suasananya yang alami. Beberapa bangunan, termasuk yang saya lalui, berada di atas kolam ikan. Ikan warna warni berkeliaran terlihat silau terkena sinar matahari.

Pertanyaan besar di awal masuk gang tadi mulai terjawab, ternyata di dalam lebih indah. Kami memasuki suatu gedung pertemuan besar yang juga terbuat dari kayu, dan masih di atas kolam. Kolamnya sedang diperbaiki, sehingga belum tampak air dan ikan-ikan di dalamnya. Di depan gedung ada tam an dan beberapa rusa duduk berteduh. Wow. Petugas yang melayani kami melakukan registrasi ulang mengatakan bahwa acara sudah mulai lima menit yang lalu. Pembuka acara lumayan bagus. Dia adalah Mas Anto, karyawan Rumah Perubahan. Kalau di al muslim, mungkin sejenis guru-guru yang berada di Litbang Leadership. Membawakan acara pembukaan, ice breaking, game, moderator, dan kegiatan sejenisnya. 

 


 Acara resmi sendiri dibuka oleh Rhenald Kasali. Saya mengenalnya sebagai pengusaha. Saya baru tahu bahwa ternyata beliau adalah Social Entrepreuner. Pengusaha sejenis ini selain mencari laba untuk kelangsungan hidup usahanya, juga mencari pahala dengan memberikan kegiatan-kegiatan social seperti pelatihan guru yang sedang saya ikuti ini. Mereka berusaha memberi kemakmuran dan manfaat lebih bagi masyarakat sekitarnya. Menurut Rhenald, kenapa guru yang diberikan pelatihan, karena guru akan mengajarkannya kepada siswa, sehingga diharapkan lahirlah ratusan bahkan ribuan siswa yang mampu menulis dan menjadikan tulisan sebagai alat untuk memperbaiki kehidupan. Guru bisa menulis, anak didik jadi sastrawan dan ilmuwan.

Well, sambutannya sejalan dengan salah satu motivasi saya mengikutinya. Saya suka menulis, dan kebetulan saya sekarang menjadi guru Leadership di SMA al muslim. Sebagai langkah awal, saya sudah menggiring mereka memiliki blog pribadi. Harapan lebih panjang, mereka mulai menulis tulisannya sendiri dalam blog mereka. Saya merasa ini bermanfaat, maka saya ingin anak-anakpun mempunyai pengalaman menarik ini.

Tidak bertentangan dengan pelajaran Leadership, justru sangat mendukung karena di dalamnya ada tuntutan keterampilan, salah satunya keterampilan menulis. Pembukaan yang diberikan Rhenald cukup inspiratif. Sangat menarik buat saya. Acara selanjutnya diisi oleh praktisi dan profesionalis jurnalisme, Amanda Setiorini dari femina group. Kami dibimbing mengenal jenis tulisan, diajak fied trip keliling Rumah Perubahan, dan menuliskannya.

Field trip menjadi salah satu cara seorang penulis mengenali apa yang akan ditulisnya atau menambah wawasan agar tulisan terasa lebih nyata. Hari kedua hadiahnya lebih indah, yakni dengan datangnya Ahmad Fuadi, sang penulis Ranah 3 Warna, dan Negeri 5 Menara. Dari Fuadi kami diajarkan membuat buku dari mulai menuliskan ide hingga menyatukan kerangka-kerangga pikiran ke dalam tumpukan-tumpukan paragraph. Dua hari ini andrenalin saya terasa dipacu lebih cepat. Saya lebur di dalamnya. Bagaimanapun, sangat luar biasa kami diajarkan bagaimana cara menulis yang baik, bahkan bagaimana kami membuat buku. Mudah-mudahan buku impian kami benar-benar tercetak.

Selama pelatihan, peserta praktik menulis sesuai apa yang diajarkan. Kami mendapat dua PR, yang pertama tentang field trip yang diadakan di hari pertama, dan yang kedua tentang safety riding. Alhamdulillah, tulisan saya berjudul ‘Mudik’ (tulisan tentang safety riding) mendapatkan penghargaan 9 tulisan terbaik angkatan ini.Laughing

 

 

 

 

 Tulisan merupakan potret masa tersebut. Dalam dunia Antropologi dikenal pemeo: ‘Sebagaimana bahasa membedakan manusia dari binatang, begitu pula tulisan membedakan manusia beradab dari manusia biadab. Dengan kata lain, tulisan hanya terdapat dalam peradaban, dan peradaban tidak ada tanpa tulisan. Jadi, kalau kita ingin dijuluki orang beradab atau modern, maka mulailah untuk menulis. Menulis merupakan kebiasaan orang terpelajar, pemikir, sekaligus para pemimpin besar dunia pada zamannya. Kebiasaan ini berkembang hingga sekarang. Para pemimpin dunia selalu menulis buku.

Masa jabatan boleh singkat, tetapi gagasan dan pemikiran serta nama mereka sendiri akan selalu dikenang berkat karya dan pemikirannya. Menarik. Setidaknya begitulah buat saya. Sebagai guru, kita adalah pemikir yang menciptakan suasana pembelajar dan menghasilkan para terpelajar. Sudah sangat wajar buat kita terus produktif dengan cara menulis. Mudah-mudahan suatu ketika tercipta banyak tulisan dan buku yang bisa memotret hasil pemikiran kita. (Siti Mugi Rahayu)