mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini1
mod_vvisit_counterKemarin1
mod_vvisit_counterMinggu Ini23
mod_vvisit_counterBulan Ini130
mod_vvisit_counterAll28283

Anak-anakku, milikilah cita-cita

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Senyum-senyum bahagia terpancar di wajah anak-anak kelas XII SMA. Binar cerah kelegaan tampak jelas melingkupi semua gerak-geriknya. Kalau tak mau dibilang gila, mungkin mereka ingin tertawa terus dan memasang karton besar di dada: Aku Lulus! Biarlah  semua orang tahu dan merasakan suka cita ini. Hari  ini kelulusan SNMPTN diumumkan.

Tak dapat dipungkiri, kuliah di universitas negeri kenamaan adalah dambaan setiap orang yang bersekolah. Apalagi kalau memang tidak ada kendala lain yang menghalangi.

Sebagai guru, saya ingin mengingatkan satu hal untuk anak-anak saya di SMA. Ketika masuk SMA, pastikan kalian sudah mempunyai cita-cita. Paling lambat, cita-cita kalian harus sudah diketemukan ketika akhir kelas X. Terlambat memang, tapi di kehidupan nyata, banyak siswa kelas XII pun tidak tahu apa cita-cita mereka. Ibaratkan kalian pemain bola, maka kalian  harus tahu mau digiring kemana bola di kaki kalian. Bayangkan kalian seorang pelari, kalian akan  melewati garis finish yang jelas. Sekarang tanya diri kalian masing-masing, akan kemana  setelah lulus nanti ?

Cita-cita menjadi penunjuk  arah langkah kalian. Bagaikan gawang yang kalian tuju atau garis finish yang kalian gapai. Maka pastikan cita-cita itu mampu kalian raih.

Kenapa siswa SMA harus sudah punya cita-cita?

Di SMA kelas XI akan ada penjurusan. Apakah kalian masuk IPA, IPS, atau Bahasa, tentu yang pertama kali  menjadi penyebab seharusnya adalah cita-cita. Sekali lagi, di kehidupan nyata dunia persekolahan, hal-hal krusial seperti masih sering terjadi. Masih banyak siswa yang terombang-ambing tak tahu arah tujuan. Anak-anak yang seperti ini akan cenderung ikut-ikutan pilihan kawan atau trend yang terjadi.

Apakah semua jurusan sama ?

Jurusan IPA, IPS, atau Bahasa tentu saja tidak sama. Sangat berbeda. Kalau sama, tentu kalian akan boleh masuk ke jurusan manapun dan apa gunanya ada penjurusan. Kenalilah perbedaannya. Kalau saja kalian sudah tahu cita-cita kalian, maka kalian akan turut menyadari bahwa banyak cita-cita yang tidak berasal dari jurusan IPA.

Sebagian orang merasa sukses karena mereka terlahir dari IPA, tapi lebih dari itu juga merasa sangat bahagia sebagai anak IPS. Harus kalian akui bahwa sebagian dari kalian menganggap jurusan IPA itu keren, padahal itu cuma berlaku juga hanya untuk sebagian orang yang memang cocok di dalamnya, sebagian yang lainnya lelah tergopoh-gopoh dan membuang-buang waktu saja tanpa menghasilkan keahlian apapun.

Cobalah bertanya pada guru atau orang tua kalian yang pernah melalui tahapan sekolah sebelum kalian. Cari tahu pelajaran apa saja yang ada di IPA dan IPS atau Bahasa. Bandingkan mata pelajaran-mata pelajaran tersebut. Kalau kalian punya cita-cita, akan lebih mudah untuk kalian meminimalisir banyak factor dan memilih jurusan mana yang menunjang cita-cita kalian. Akan tidak keren apabila kalian masuk jurusan yang salah kemudian kalian tersiksa di dalamnya. Bisa jadi hal itu terjadi mungkin karena kemampuan kalian tidak mencukupi atau karakteristik pelajaran tidak sesuai dengan minat dan bakat kalian. Bahkan, seseorang harus merelakan cita-citanya ketika dia terlanjur salah masuk jurusan dan akhirnya mengandalkan nasib yang mengombang-ambing impiannya.Frown

Kesuksesan tidak diukur dari jurusan mana yang terlihat cool atau tidak, tapi dari keseriusan kita menjalaninya. Dengan begitu, mau di  Jurusan IPA, IPS atau Bahasa, kesuksesan bisa kita raih. Jangan khawatir, lihatlah dunia luar yang membentangkan beribu contoh orang sukses dari banyak jurusan  berbeda. Lalu, ketika hari ini adalah pengumuman SNMPTN dan kalian lulus, maka kalian akan mengakui bahwa kalian menolong diri kalian sendiri. Menjadi tak ada gunanya mengikuti  pilihan orang lain, apalagi memaksakan untuk menjadi cool tanpa kemampuan.

Terakhir, milikilah rasa syukur, karena kebahagiaan kita juga tergantung dari cara kita mensyukuri sesuatu. (Siti Mugi Rahayu)